Investasi Pendidikan


Apa yang dilakukan orangtua kepada anaknya dalam hal pendidikan? Setiap orangtua pasti ingin anaknya pandai. Setiap orangtua pasti ingin anaknya mempunyai masa depan yang baik.

Jawabannya : INVESTASI PENDIDIKAN!

 

Gambaran INVESTASI PENDIDIKAN :

======= PLAYGRUP/TK (2 tahun) =======

  • Dibutuhkan uang gedung, uang jajan, uang seragam, pembantu jika perlu.
  • Dana yg dibutuhkan minimal Rp. 20 juta selama 2 tahun.

======= SD (6 tahun) =======

  • Uang gedung, uang jajan, uang buku, uang les/eks-kul, ongkos, uang seragam, dan lainnya.
  • Butuh dana minimal Rp. 150 juta selama 6 tahun.
  • HARUS masuk tiap hari, tanpa kompromi, 6 tahun, pake ujian segala.
  • resiko bisa tidak naik kelas dan tidak lulus! Lulus SD bisa ngapain? Tidak bisa apa-apa. Rata-rata paling jadi tukang becak atau jadi pemulung, kenek angkot, atau kenek bangunan. Maka setiap orangtua tidak ingin anak mereka seperti itu, akhirnya mereka NEKAT investasi lebih besar, masuklah anak mereka ke SMP.

======= SMP (3 tahun) =======

  • Uang gedung, uang jajan, uang buku, uang les, uang pulsa, uang seragam, semakin membengkak.
  • Butuh dana minimal Rp. 100 juta selama 3 tahun.
  • HARUS masuk tiap hari, tanpa kompromi, 3 tahun, pake ujian segala.
  • resiko bisa tidak naik kelas dan tidak lulus! Lulus SMP bisa ngapain? Paling banter sales freelance, cleaning servise… eit tunggu dulu… smp? No way, mana ada sekarang CS lulusan smp, minimal sma. Maka orangtuapun maksain diri LEBIH NEKAT lagi masukkan anaknya ke SMA, sekolah yang tinggi supaya dapat “kerjaan yang enak”.

======= SMA (3 tahun) =======

  • Uang gedung, uang jajan, uang buku, uang les, uang pulsa, handphone, uang seragam, 1 pelajaran 1 les, semakin membengkak lagi.
  • Butuh dana minimal Rp. 200 juta selama 3 tahun.
  • Itupun kembali HARUS masuk tiap hari, tanpa kompromi, 3 tahun, pake ujian kembali.
  • resiko bisa tidak naik kelas dan tidak lulus!
  • Lulus SMA bisa ngapain? Jaga toko sama counter hp dengan gaji 350rb/bulan. Karyawan bagi yang diterima, paling 450rb per bulan. Cleaning servise, sales, kerja pabrik, dan selevelnya. Kehidupan orang lulusan SMA tanpa usaha mandiri? wuih serem… Orangtua makin ngos-ngosan, senin kamis, kembang kempis, NEKAT terakhir kali investasi. Anak harus masuk UNIVERSITAS. Titik.

======= KULIAH (4 tahun) =======

  • Tiap hari kuliah, sayangnya banyak waktu tersisa nongkrong di kampus, saat antar kuliah ada jeda lama.
  • Diakui atau tidak sang anak mulai memakai gelar pengangguran tidak kentara, alias tidak produktif, hanya konsumtif.
  • Kost, motor, atau bea transportasi, bensin, handphone, pulsa, makan, fotocopy, kkn, dan seabreg pengeluaran lainnya.
  • Jadi kira-kira orangtua harus mempersiapkan dana minimal Rp. 400 juta selama 4 tahun.

 

Terus apa jaminannya kalo sudah bergelar S1? Tujuan akhir adalah “CARI KERJA!” Lho…

Jadi kuli atau karyawan atau pegawai atau yang lebih keren profesional alias executive. Apapun jabatannya kalo masih bisa diperintah dan dipecat orang, itu namanya juga kuli. Lamar kesana-sini, eeh… ditanya pengalaman kerja, ujung-ujungnya jadi karyawan di minimarket yang warna tokonya putih merah kuning biru itu, atau terdampar jadi sales. Kalaupun diterima sebagai karyawan suatu perusahaan, gaji pertama cuma Rp. 750.000.

Apakah kehidupan yang seperti itu yang orangtua inginkan untuk anak-anaknya nanti? Saya yakin di antara orangtua yang anaknya masih kuliah pasti menyimpan was-was, anaknya mau kemana selepas wisuda. Apalagi kalo ada mahasiswa tingkat akhir yang ditanya : “Apa yang akan anda lakukan selepas ini?“, “BELUM TAHU, yah ntar nyari2“. Wadoooh! Ini anak mabok kali ya. Orangtua biayain sekolah sampai sarjana, eeh… giliran ditanya kok tidak tahu. Persis jawaban pak ogak ditikungan jalan.

Berapa investasi yang orang tua keluarkan sampai anaknya menjadi sarjana? 300 juta per orang? Ya. kalo itu angka 10thn yang lalu. Sekarang 500 juta? Ya hampir, tergantung universitas dan gaya hidup.

Hitung-hitung kita dijadiin kuli dengan gaji Rp. 1 juta per bulan. Maka kita KERJA BHAKTI selama 500 bulan. Kalo kenaikan rata-rata 10% tiap tahun, maka kerja bhakti susut menjadi 275 bulan. Dibagi 12 bulan, jadi 20 tahun kerja bhakti.

“Positive Thinking, Positive Feeling”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s