Open Your Mind


Pada zaman dahulu kala, di tepi sebuah sungai, ada seorang pemancing ikan yang aneh. Pekerjaannya setiap hari hanya memancing ikan, yang akan dikonsumsi bersama-sama dengan keluarganya setiap hari. Ia memancing dengan kail biasa.

Umpan dan tempat ikannya pun umpan yang biasa dipakai oleh pemancing ikan lainnya. Yang berbeda adalah bahwa salah satu perlengkapannya memancing adalah sebuah penggaris yang panjangnya 25 cm.

Ini yang aneh. Setiap kali umpan dipancingnya dimakan ikan, kemudian kailnya ditarik. Tampak ikan menggelepar di ujung kailnya. Sebelum dimasukkan ke tempat ikan (bubu), sang pemancing ikan mengukur ikan hasil pancingannya dengan penggaris. Setiap kali ada ikan yang lebih panjang dari penggaris, dilepas kembali. Hanya ikan-ikan yang lebih pendek dari penggaris lah yang disimpan di dalam bubu.

Tidak ada seorang pun yang tahu, apa alasan pak tua pemancing ikan itu mengukur ikan-ikan hasil pancingannya, sampai suatu ketika datang seseorang dari kota raja menanyakan hal itu. Alasannya sederhana. Penggorengan di rumahnya hanya berdiameter sepanjang penggaris. Jadi, jika ia membawa ikan yang lebih panjang dari penggaris pulang ke rumahnya, istrinya tidak bisa memasaknya.

Apa pendapat anda ? Bisa jadi anda akan mengatakan bahwa pemancing ikan itu adalah orang bodoh. Ia melakukan kebodohan. Ikan besar seharusnya dibawa pulang, dan ikan kecil lah yang dilepaskan kembali ke sungai. Toh ikan besar bisa dipotong-potong. Atau penggorengannya yang diganti dengan ukuran yang lebih besar.

Pembaca. Sadar atau tidak, seringkali kita bertindak seperti pak tua pemancing ikan di atas. Setiap saat kita dihadapkan pada peluang bisnis yang berpotensi menghasilkan uang yang cukup banyak. Sayangnya, kita seringkali pula menolak peluang itu, hanya dengan alasan bahwa kemampuan dan kompetensi kita tidak cukup untuk memanfaatkan peluang itu. Kita sering menolak ‘ikan besar’ dengan berbagai alasan seperti tidak bisa atau tidak biasa melakukannya.

Dan ternyata berbagai alasan yang kita kemukakan adalah sekedar alasan, untuk tidak mau memanfaatkan peluang itu. Kita menganggap bahwa kemampuan dan kompetensi kita tidak bisa ditingkatkan. Dan cara paling mudah memang mempersilahkan peluang itu hanya lewat di depan hidung kita.

Pembaca. Kemampuan atau kompetensi yang kita miliki, tidak analog dengan mur dan baut. Jika saat ini kita tidak memiliki kemampuan atau kompetensi dalam salah satu bidang, tidak berarti bahwa kemampuan atau keterampilan itu tidak bisa kita kuasai sampai kita mati. Analogi yang paling tepat soal kemampuan, mungkin seperti karet gelang. Dengan meregangkannya sedikit demi sedikit, setiap hari, lama-kelamaan karet gelang itu akan semakin lebar.

Proses meregangkan karet gelang, identik dengan proses belajar. Dengan belajar kemampuan kita bertambah. Kompetensi meningkat. Tentu saja ada harga yang harus kita bayar, yaitu rasa sakit karena proses peregangan yang dilakukan. Sejumlah rupiah harus keluar untuk diinvestasikan. Waktu bersantai atau istirahat harus berganti jadi waktu belajar.

Pertanyaan untuk kita renungkan, selama ini kita membuang ikan besar, atau memperbesar penggorengan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s